Literasi Informasi dalam Lingkup Pendidikan Inklusi Sosial : Studi Kebudayaan dan Masyarakat Sosial di Indonesia

Literasi Informasi dalam Lingkup Pendidikan Inklusi Sosial : Studi Kebudayaan dan Masyarakat Sosial di Indonesia

Assalamualaikum wr.wb 

Halo Teman-teman 5D dan seluruh angkatan 2019 dan seterusnya serta semua kawan warga Jipers dan warga prodi umum ataupun keislaman lainnya

Nama saya Ahmad Farhan dari kelas 5D dengan matakuliah Digital Library Marketing dengan dosen pengampu Pak Parhan Hidayat M.Hum. program studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Saya Akan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta manfaat literasi informasi dalam lingkup pendidikan inklusi sosial : studi kebudayaan dan masyarakat sosial di Indonesia beserta isu, tantangan dan strategi dalam mengatasi tantangan dan dampaknya adalah sebagai berikut :

  • Pengertian Literasi
      • Menurut UNESCO, bahwa literasi adalah kumpulan dasar keterampilan yang objektif,  khususnya keterampilan pengetahuan dalam membaca dan menulis dan menulis terlepas dari tersirat di mana keterampilan yang dimaknai peroleh dan bagaimana cara mendapatkannya
      • Menurut Elizabeth Sulzby (1986), bahwa literasi adalah kemampuan berbahasa yang dipunyai oleh perorangan dalam berkomunikasi 4 keterampilan utama "membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis" dengan berbagai keragaman cara sesuai dengan tujuan utama
      • Menurut American Library Association (ALA), bahwa literasi informasi merupakan kumpulan pencapaian yang dibutuhkan seseorang untuk mengetahui kapan informasi tersebut dibutuhkan dan mampu untuk menempatkan, menilai, dan memakai informasi yang dibutuhkan secara efektif
      • Menurut Shapiro dan Hughes, bahwa literasi informasi yaitu salah satu seni kebebasan terbaru dalam rangka memahami bagaimana memakai teknologi komputer dan menelusur informasi itu sendiri dalam konteks sosial, budaya dan filosofi
  • Tujuan dan manfaat literasi
    • Tujuan literasi yang terdiri dari
      • Mengembangkan perilaku ataupun budi pekerti yang baik;
      • Dapat menambah kognitif yang dipunyai dengan cara membaca keragaman informasi yang bermanfaat;
      • Mengembangkan budaya literasi masyarakat ataupun di sekolah;
      • Meluangkan waktu dengan literasi supaya lebih bermanfaat;
      • Dapat menambah pengetahuan seseorang mengambil inti dari bacaan;
      • Membutuhkan evaluasi kritis pada karya tulis perorangan; dan 
      • Memperkuat nilai kepribadian dengan membaca dan menulis. 
    • Adapun manfaat literasi yang terdiri dari
      • Meningkatkan kosa kata yang belum diketahui
      • Meningkatkan wawasan dan informasi baru
      • Memulihkan kerja otak
      • Mengembangkan kemampuan interpersonal dan kolektif
      • Meningkatkan kemampuan verbal ataupun lisan
      • Memperjelas diri dalam menangkap maksud dari suatu informasi yang sedang baca
      • Mengamati kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya
      • Mendidik dalam hal pencapaian menulis dan menyusun kata-kata yang bermakna
      • Menambah fokus dan konsentrasi
  • Jenis-jenis dan tahapan literasi
    • Jenis-jenis literasi yang berkembang di masyarakat
      • Literasi dasar (fundamental literacy) 
        • Yaitu kemampuan membaca, menulis, berbicara, menyimak dan juga berhitung, juga memulihkan dan mengembangkan dalam hal 5 keterampilan dasar tersebut
      • Literasi perpustakaan (library literacy)
        • Yaitu lanjutan dalam penyempurnaan literasi perpustakaan yang ada, yang terdiri membutuhkan pengetahuan tentang cara membandingkan antara cerita fiksi dan non fiksi, mengenal pemakaian indeks, abstrak, dan katalog dan juga mempunyai kognitif dalam mengetahui kognitif dalam mengetahui informasi ketika saat merampungkan sebuah penulisan akademik penelitian
      • Literasi visual (visual literacy)
        • Yaitu pengetahuan yang dilaksanakan antara literasi media dan literasi teknologi yang meningkatkan dengan cara manfaat visual
      • Literasi media (media literacy)
        • Merupakan kemampuan untuk memahami berbagai bentuk media yang ada, seperti media tercetak (buku, jurnal, prosiding, dsb), media elektronik (e-book, e-resource, e-journal, dsb) dan lainnya
      • Literasi teknologi (technology literacy)
        • Adalah salah satu kemampuan untuk mengetahui kelengkapan dalam suatu teknologi, yang meliputi hardware, software, mengetahui cara mengakses internet, dan memahami etika yang berlaku dalam penggunaan teknologi
      • Literasi baca dan tulis (bahasa), kognitif dan keterampilan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan mengerti informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan memakai teks tertulis untuk memenuhi tujuan, menambah pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.
      • Literasi numerasi (matematika), kognitif dan keterampilan untuk (a) bisa mendapatkan, menafsirkan, memakai, dan menyampaikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk menyelesaikan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari; (b) bisa menelaau informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) untuk menemukan keputusan.
      • Literasi sains, kognitif dan keterampilan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, mendapatkan pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta menarik kesimpulan berdasarkan fakta, mengerti karakteristik sains, mengembangkan kesadaran bagaimana sains dan teknologi mengembangkan lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta mengembangkan kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains.
      • Literasi digital, kognitif dan keterampilan untuk memakai media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam mencari, menilai, memakai, membentuk informasi, dan menggunakannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membimbing komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
      • Literasi finansial, kognitif dan keterampilan untuk menerapkan (a) pengertian tentang konsep dan risiko, (b) kecakapan, dan (c) motivasi dan pengetahuan agar dapat merancang keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk mengembangkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.
      • Literasi sosial, budaya, agama, sejarah, dan kewarganegaraan, kognitif dan keterampilan dalam mengetahui dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pemahaman dan keterampilan dalam mengetahui hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat. Literasi sosial juga dikatakan sebagai sarana mengetahui dan menerapkan konsep masalah sosial, isu sosial yang ditemukan di masyarakat, pengendalian permasalahan isu sosial, serta cara berkolaborasi dan kekeluargaan serta solidaritas dalam membangun ketahanan sosial masyarakat dalam bertoleransi dan menghargai perbedaan keragaman masyarakat. setempat. Literasi sejarah juga dipahami sebagai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk memilih sumber objektivitas sejarah secara valid dan bisa menemukan perbedaan antara fenomena sejarah yang satu dengan lainnya untuk menghindari adanya bias dan penyimpangan sejarah. Adapun literasi agama, pengetahuan dan kecakapan informasi dalam memilih sumber-sumber hukum keagamaan sesuai dengan pedoman keagamaan dan memilih dan memilah informasi yang didapatkan dari ahli agama serta menghindari adanya intoleransi, radikalisme, terorisme ataupun isu agama lainnya. 
      • Tool literacy, kemampuan mengetahui dan memakai teknologi informasi secara konsep dan praktis, termasuk di dalamnya kemampuan memakai perangkat lunak, keras, multimedia yang relevan dengan bidang kerja atau studi.
      • Resources literacy, kemampuan mengetahui bentuk, format, lokasi, dan cara mengambil sumber daya informasi terutama jaringan informasi yang terus berkembang.
      • Social structural literacy, mengetahui tentang bagaimana keluaran informasi oleh berbagai pihak di dalam sebuah masyarakat.
      • Research literacy, kemampuan memakai perlengkapan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset.
      • Publishing literacy, kemampuan untuk merangkai dan mempublikasikan bahan terbitan dan ide ilmiah ke kalangan masyarakat dengan menggunakan komputer dan internet.
      • Emerging technology literacy, kemampuan seseorang keberlanjutan untuk beradaptasi diri dan mengikuti arus perkembangan teknologi dan bersama-sama dengan komunitasnya ikut memilih arah pemakaian teknologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu.
      • Critical literacy, kemampuan melaksanakan evaluasi secara kritis terhadap untung rugi memakai teknologi telematika dalam kegiatan ilmiah.
      • Literasi lainnya
    • Tahapan Literasi Informasi

      • Menurut Arga (2009), tahapan atau urutan mendapatkan keterampilan literasi informasi, diantaranya sebagai berikut:
        • Memahami kebutuhan informasi, kemampuan seseorang untuk memahami bahwa pengetahuan yang kepunyaan sesuatu subjek tertentu tidak mencukupi, namun dapat meminjam istilah ataupun teori lain di bidang keilmuan lainnya selama sumber informasi lainnya tersedia dalam berbagai keilmuan dan dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai problematika yang ada, seperti ilmu perpustakaan yang membahas tentang istilah pranata sosial, dapat meminjam istilah tersebut dari sosiologi
        • Menentukan strategi pencarian, menggunakan pemilihan pencarian sebelum pencarian dilakukan berlangsung. Strategi yang didapatkan yaitu, mampu mengorganisasi data yang saat ini sudah dipahaminya ke dalam beberapa kategori atau subjek, mengidentifikasi sumber yang berpotensi mengenal bahan tambahan ke dalam kategori atau subjek dan menentukan kriteria untuk sumber yang potensial, kemuktahiran, bentuk/format, dan sebagainya.
        • Mengumpulkan sumber informasi, kemampuan perorangan dalam melaksanakan proses mengumpulkan berbagai sumber yang dibutuhkan baik dalam bentuk tercetak dan non tercetak, online dan komputerisasi, interview antar pakar, pengajuan dokumen pemerintah yang cocok, konsultasi dengan para pustakawan dan para pakar lainnya untuk saran tentang sumber tambahan yang diperlukan.
        • Mengevaluasi, memeriksa, dan menelaah informasi, kemampuan proses mengorganisasi dan menyaring ataupun memilih dan meneliti kata kunci dan topik terkait, mengevaluasi ataupun menilai otoritas dari sumber, mengidentifikasi kesalahan, pandangan beberapa keberpihakan dan jika perlu, memperjelas kembali pertanyaan untuk pencarian informasi yang dibutuhkannya.
        • Mengalih bahasa-kan informasi, Kemampuan melibatkan analisis, sintesis atau modifikasi, evaluasi dan pengorganisasian data terseleksi untuk pemakaian dan kemudian menarik sebuah kesimpulan dari semua yang terkait dengan penelitian tersebut.
        • Menyampaikan informasi, kemampuan penyampaian informasi yang didapatkan dengan cara membutuhkan manfaat kepada orang lain dari pertanyaan riset, dalam bentuk laporan, poster, grafik, atau yang lainnya.
        • Menilai proses produk, kemampuan melaksanakan penilaian terhadap produk dan proses penelitian yang dilaksanakannya. Keterampilan dalam menilai tersebut akan bisa memilih sejauh mana baiknya data yang diperoleh mencapai apa yang menjadi tujuan dari suatu penelitian yang dikerjakannya.
  • Hubungan literasi dengan pendidikan inklusi sosial beserta prinsip literasi
    • Literasi dapat memberikan manfaat terbesar dalam hak inklusi, Literasi yaitu hak dan membutuhkan manfaat yang nyata, yang didapat melalui pendidikan sekolah maupun program adult literacy (literasi untuk orang dewasa). Program ini keluaran manfaat yang melebihi hasil dari pendidikan di sekolah. 
    • Dalam peraturan perundangan secara tegas diperjelas bahwa masyarakat mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan layanan dan menggunakan fasilitas perpustakaan. Hal ini juga berlaku untuk masyarakat disabilitas, dengan keterbatasan fisik maupun sosial serta masyarakat yang terisolasi dan terpencil. Pemerintah berkewajiban untuk membangkitkan promosi gemar membaca dengan menggunakan fasilitas perpustakaan.
    • Latar belakang itu yang mendasari Perpusnas sebagai pembimbing semua jenis perpustakaan dengan dukungan dari Bappenas ide kreatif untuk melaksanakan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Program ini bertujuan mempererat peran perpustakaan umum dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga kemampuan literasi pengembangan yang berujung peningkatan kreativitas masyarakat dan keterbatasan akses informasi.
    • Perpustakaan selain menyiapkan sumber-sumber bacaan untuk mencari informasi dan pengetahuan juga wajib pendampingan masyarakat dengan berbagai kegiatan pelatihan dan keterampilan, yang bertujuan untuk pembinaan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan upaya tersebut diharapkan performa individu meningkat, sistem dan organisasi perpustakaan menjadi kuat, sehingga berdampak pada memperbarui kualitas layanan perpustakaan dan juga penggunaannya oleh masyarakat yang secara otomatis, mengembangkan literasi masyarakat.
    • Adapun prinsip yang didapatkan dalam literasi menurut Kylene Beers “2009" yakni sebagai berikut
      • Bersifat Berimbang
        • Artinya informasi tersebut harus penyeimbang antara informasi dalam teks dan konteks, membaca dan variasi bacaan dan bentuk lain seperti, istilah moderasi lebih mengarahkan penyeimbangan informasi tidak terlalu berlebihan ataupun pengurangan, tidak terlalu keras ataupun lemah untuk menghindari disinformasi ataupun informasi bias. 
      • Bahasa Lisan Sangat Penting
        • Artinya informasi disampaikan secara lisan baik seperti menyimak ataupun berbicara, dengan menggunakan diskusi terbuka dalam mengetahui perbedaan pendapat mereka dalam penyampaian informasi yang didapatkan, diharapkan prinsip ini menekankan untuk berpikir kritis dalam menghadapi perbedaan informasi. 
      • Berlangsung Pada Suatu Kurikulum
        • Artinya semua kurikulum dapat menggunakan literasi sebagai panduan untuk memilih dan memilah informasi yang sesuai. seharusnya program literasi diterapkan pada seluruh siswa dan tidak tergantung pada kurikulum tertentu, dengan kata lain kegiatan literasi menjadi suatu kewajiban bagi semua guru dan bidang studi.
      • Pentingnya Keberagaman
        • Artinya di negara kita mempunyai keunikan ragam bahasa, etnik, ras, agama, sosial ekonomi, dan lain-lain, sesuatu yang layak untuk dihargai dan dirayakan di setiap sekolah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara menyiapkan berbagai buku bertema kekayaan budaya negara Indonesia sehingga siswa lebih memahami budaya bangsa dan turut serta melestarikannya.
  • Isu-isu yang berkaitan dengan literasi di era disrupsi digital

    • Berikut beberapa isu-isu yang berkaitan dengan literasi di era disrupsi digital
    • Rendahnya budaya literasi di Indonesia berakibat pada fenomena bahwa masyarakat Indonesia begitu mudahnya percaya pada berita-berita hoax (berita palsu) dan kemudian menyebarkannya,” terang peneliti yang pernah mendalami filsafat di STFT Widya. Ia mengetahui fenomena hoax menentukan bahwa masyarakat Indonesia tidak biasa memverifikasi isi berita, membandingkan berita di media lain dan tidak terbiasa mengkritisi berita.
    • Di dunia Pendidikan, baik di sekolah maupun kampus-kampus seringkali buku-buku yang tersedia di perpustakaan adalah buku-buku yang sudah usang sehingga perpustakaan sering tidak mengakomodasi kebutuhan akan informasi yang baru,” tandasnya. 
    • Belum lagi keterbatasan akses berliterasi baik cetak, elektronik maupun digital antara wilayah perkotaan dengan daerah pelosok sangat mencolok. Ia menemukan fakta bahwa akses berliterasi baik cetak, elektronik maupun media online di pelosok masih sangat rendah sehingga semakin memprihatinkan rendahnya minat masyarakat Indonesia berliterasi.
    • Ia pun prihatin informasi yang menyesatkan, propaganda yang bernada kebencian dan isu-isu SARA selain melalui media digital juga sudah disebarkan melalui buku-buku. Ironisnya buku-buku tersebut sudah masuk kedalam dunia pendidikan.
  • Studi kebudayaan dan masyarakat sosial di Indonesia, dalam lingkup literasi
    • Adanya situs informasi (literasidigital.id) yang dikelola secara professional dengan sumber daya yang memadai berisi update informasi berkala, rujukan sumber pengetahuan, informasi kegiatan dan kompilasi literatur terkait Literasi Digital dengan minimal per bulan terdapat 4.000 jumlah pengunjung unik (unique visitor), 8.000 jumlah kunjungan (visit) dan 32.000 jumlah halaman dibuka (halaman tampilan) hingga tahun pertama.
    • Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi fenomena disinformasi ini diantaranya, pertama, pengolahan informasi dengan baik, dan kedua yaitu implementasi literasi budaya dan kewargaan pada ranah sekolah, keluarga dan masyarakat. Implementasi literasi budaya dan kewargaan sebagai solusi disinformasi pada generasi millennial ini dilakukan agar generasi millennial terhindar dari disinformasi dan bisa mengatasi fenomena tersebut dengan baik.
    • Selain itu, generasi millennial agar tetap cinta dan dapat melestarikan kebudayaan sebagai identitas bangsa Indonesia. Penelitian studi literatur ini akan berpotensi untuk dikembangkan lagi pada penelitian selanjutnya, yakni meneliti konten budaya di website atau media sosial yang digunakan generasi millennial. Implementasi literasi budaya dan kewargaan sebagai solusi disinformasi pada generasi millennial sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, hasil penelitian ini juga berpotensi sebagai bahan rujukan untuk penerapan literasi budaya dan kewargaan di sekolah, rumah dan masyarakat, dalam membentuk generasi millennial yang lebih literate (terpelajar), tetap mencintai dan bisa melestarikan sesuatu yang menjadi identitas bangsa ini.
  • Tantangan dan hambatan dalam literasi serta strategi pencegahannya
    • Tantangan yang dihadapi bangsa ini bukan hanya angka buta aksara yang masih tinggi, melainkan juga rendahnya minat baca masyarakat di berbagai lapisan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2004 masih ada 15,4 juta penduduk yang buta aksara atau 10,2 persen dari jumlah penduduk, sedangkan pada 2010 jumlahnya turun menjadi 7,54 juta jiwa atau 5,02 persen dari jumlah penduduk. Pada tahun 2017, jumlah ini turun lagi menjadi 3,4 juta jiwa atau 2,07 persen dari jumlah penduduk. Selain itu, kemampuan membaca saja tidaklah cukup, tetapi juga harus disertai dengan kegemaran membaca di masyarakat. Hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017 menunjukkan, frekuensi membaca orang Indonesia hanya 3-4 kali per minggu dengan lama waktu membaca per hari hanya 30-59 menit. Tidak sampai satu jam.
    • Waktu membaca ini jauh di bawah standar UNESCO, yakni 4-6 jam per hari. Adapun jumlah buku yang ditamatkan masyarakat Indonesia hanya 5-9 buku per tahun (Harian Kompas, 2018). Uji tiga tahunan Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) untuk siswa usia 15 tahun atau di bidang sains, membaca, dan matematika menunjukkan, nilai siswa Indonesia pada 2015 hanya 403, jauh lebih rendah daripada nilai rata-rata global 493. Rendahnya nilai PISA itu menunjukkan mutu siswa Indonesia lemah dalam bernalar serta berargumentasi lisan dan tulisan. Namun, di era industri 4.0 yang mengedepankan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong inovasi, kemampuan itu jauh dari memadai (Arika, 2018). Pendidikan abad ini seyogianya mampu membentuk insan muda yang teliti, kritis, dan etis, mampu mengenali dan menganalisis masalah, memberikan solusi bagi pemecahan masalah, dan lebih lanjut mampu membuat keputusan secara tepat (Abidin, 2015).
    • Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya budaya literasi tersebut, antara lain:

      1. Kebiasaan Membaca Belum Dimulai dari Rumah

      Literasi - Buku

      Literasi – Buku

      Aktivitas membaca masih belum terbiasa dalam ranah keluarga. Orang tua hanya mendidik membaca dan menulis pada level biasa, belum menjadi kebiasaan. Padahal, budaya literasi harus dibina sejak kecil. Misalnya, terbiasa membaca cerita untuk anak atau mendidik menulis buku harian.

      2. Perkembangan Teknologi yang Makin Canggih

      Teknologi Canggih

      Teknologi Canggih

      Teknologi yang makin canggih ternyata turut meninggalkan budaya literasi di Indonesia. Orang-orang lebih suka bermain dengan gawai daripada membaca. Membaca jadi terasa menjemukan dibandingkan dengan bermain gawai.

      Teknologi yang makin canggih juga diimbangi dengan media sosial yang makin banyak. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya memungkinkan Anda membaca berita palsu. Sebetulnya, berita hoax tersebut dapat diperangi dengan budaya literasi. Teknologi yang makin canggih seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan bahan literasi.

      3. Sarana Membaca yang Minim

      Minim Sarana

      Minim Sarana

      Sarana membaca yang minim ternyata juga membuat kebiasaan membaca ini sulit dilakukan. Sarana tersebut misalnya perpustakaan. Bagaimana kondisi buku di perpustakaan sekolah atau kota Anda?

      Apakah koleksinya masih buku-buku lama? Apakah Anda sering menemukan buku yang Anda cari di sana? Buku-buku lama dan minimnya koleksi perpustakaan membuat orang-orang malas berkunjung.

      Sistem inventarisasi perpustakaan yang membutuhkan waktu lama, sering kali menjadi penyebab buku baru tidak bisa segera dipinjam. Selain itu, sistem pengadaan buku yang tidak ditangani oleh orang-orang yang kurang kompeten, membuat koleksi perpustakaan kurang maksimal di beberapa tempat. Ketersediaan buku-buku berkualitas yang minim juga termasuk salah satu penyebab orang malas membaca.

      4. Kurang Motivasi untuk Membaca

      Kurang Motivasi Baca

      Kurang Motivasi Baca

      Kurang minat baca adalah penyebab rendahnya budaya literasi di Indonesia. Terkadang, beberapa orang merasa tidak mengerti manfaat membaca sehingga tidak tertarik untuk melakukannya. Membaca membutuhkan waktu khusus memang, tetapi membaca itu memiliki banyak manfaat. Guru yang lebih banyak memberikan ceramah kepada siswa juga ikut melemahkan budaya literasi.

      Segala informasi sudah didapatkan dari guru sehingga siswa kurang terbiasa membaca. Bahkan, siswa merasa tidak perlu membaca karena menganggap informasi yang datang dari guru selalu benar.

      5. Sikap Malas untuk Mengembangkan Gagasan

      Malas Membaca

      Malas Membaca

      Literasi tidak hanya membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Bagaimana dapat terampil menulis jika jarang membaca? Menulis membutuhkan kosakata yang akan diperoleh dari membaca.

      Setelah memiliki bahan untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk pengendapan ide. Proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis.

    • Strategi Pencegahan Hambatan dalam Literasi

    • Di dunia yang mengalami perubahan sangat cepat ini, di mana kita tidak dapat memperkirakan teknologi apa yang akan bermunculan di masa mendatang. Menjadi penting untuk mengajarkan kepada para siswa bagaimana cara belajar dan mengajar secara mandiri. bukan hanya dari segi pengetahuan tapi juga keterampilan, sikap dan nilai yang mampu menjadikan mereka membentuk citra diri pribadi yang siap berkompetisi di masyarakat global.

      Gerakan literasi harus mencakup keterampilan abad 21 yang dideskripkan oleh OECD, yakni berupa literasi matematis, sains, digital, financial dan lainnya. Hal tersebut harus disertai pula dengan penanaman sikap dan keterampilan seperti berpikir kritis dan kreatif, rasa ingin tahu, Kerjasama, gotong royong, dan kesadaran akan perbedaan budaya.

      Mengajarkan sains dan teknologi serta keterampilan dan kecakapan hidup di masa revolusi industri 4.0 ini menjadi begitu penting jika kita menginginkan anak-anak kita menghadapi tantangan dunia di masa mendatang. kita tidak bisa bergantung pada cara Pendidikan tradisional. Kita perlu regulasi yang kuat dan investasi yang serius di bidang pendidikan, sains dan teknologi untuk mengembangkan keterampilan abad 21 pada generasi muda dan mempersiapkan mereka mengubah masa depan menjadi lebih baik. 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa literasi bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis karena melibatkan pengetahuan bahasa (lisan dan tulisan), kemampuan kognitif, serta pengetahuan mengenai genre dan kultural. Adapun tantangannya masih banyak berita hoaks yang beredar dimasyarakat, jadi kita harus jeli memilah dan memilih informasi yang sesuai, supaya tidak termakan hoaks yang beredar. 

Demikian hasil pemaparan tentang 
maksud dan tujuan serta manfaat literasi informasi dalam lingkup pendidikan inklusi sosial : studi kebudayaan dan masyarakat sosial di Indonesia beserta isu, tantangan dan strategi dalam mengatasi tantangan dan dampaknya. Mudah-mudahan tentang materi ini bisa diterapkan di dunia kerja dan di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Aaamiiinnn..

Kurang lebih mohon maaf ada kesalahan dan kekhilafan dalam pengerjaan mohon di maafkan 

Wabillahi Taufik wal hidayah 

Wassalamualaikum wr.wb 

Terimakasih dan sampai berjumpa di pembahasan berikutnya

Semoga bermanfaat

Salam Literasi, literasi untuk kesejahteraan kita semua

Sumber :
https://www-beritasatu-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.beritasatu.com/amp/archive/444450/tingkat-literasi-masyarakat-masih-sangat-memprihatinkan?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQKKAFQArABIIACAw%3D%3D#aoh=16334177298808&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.beritasatu.com%2Farchive%2F444450%2Ftingkat-literasi-masyarakat-masih-sangat-memprihatinkan
http://lpmplampung.kemdikbud.go.id/detailpost/enam-literasi-dasar-yang-perlu-dikuasai
https://indonesiadevelopmentforum.com/2020/knowledge-center/detail/11886-memacu-budaya-literasi-kritis
https://sevima.com/pengertian-literasi-menurut-para-ahli-tujuan-manfaat-jenis-dan-prinsip/
https://www.dosenpendidikan.co.id/literasi-adalah/
https://duniapendidikan.co.id/tujuan-literasi/
https://www.perpusnas.go.id/news-detail.php?lang=id&id=190328065053IwHcN3x98C
http://jurnal.unpad.ac.id/jkip/article/download/20066/10525
https://www-educenter-id.cdn.ampproject.org/v/s/www.educenter.id/5-penyebab-rendahnya-budaya-literasi-di-indonesia/amp/?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQKKAFQArABIIACAw%3D%3D#aoh=16334220201555&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.educenter.id%2F5-penyebab-rendahnya-budaya-literasi-di-indonesia%2F
https://www.smkgiki1.sch.id/read/40/pendidikan-dan-penanaman-budaya-literasi-di-masa-pandemi

Komentar

  1. Informasi nya bagus bgt nih , makasi hann

    BalasHapus
  2. Bermanfaat sekali. Terima kasih kak

    BalasHapus
  3. Baguss Farhan. Sangat informatif 👍🏼👍🏼

    BalasHapus
  4. Terima kasih farhan, informasinya sangat bermanfaat!👍🏻 semnagat terus yaaa✨

    BalasHapus
  5. informasi yg bermanfaat!

    BalasHapus
  6. bagus sekali, bisa menambah wawasan saya

    BalasHapus
  7. Lengkap banget penjelasannya, terima kasih han

    BalasHapus
  8. Terima kasih han bermanfaat banget nih tulisannya. Keep it up han!

    BalasHapus
  9. Wihh penjelasannya sangat lengkap dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  10. Terima kasih Farhan buat informasi tentang literasinya.

    BalasHapus
  11. lengkap bgt penjelasannyaaa👏 keren farhaan!

    BalasHapus
  12. Terima kasih Farhan atas informasinya, bagus dan sangat bermanfaat. Keren !!!!!!!

    BalasHapus
  13. alhamdulillahh keren banget penjelasannnya sangat memuaskann! terimakasih banyak

    BalasHapus
  14. Penjelasannya singkat padat dan jelas, keren farhann

    BalasHapus
  15. Terimakasih Farhan infromasinyaa, bermanfaat sekaliii

    BalasHapus
  16. Terima kasih materinya. Lumayan dapet ilmu baru!👍🏻

    BalasHapus
  17. Penjelasannya sangat bermanfaat, terima kasih farhan atas informasinya!

    BalasHapus
  18. terimakasih farhan informasinya🙏🏻

    BalasHapus
  19. Wah infonya bermanfaat banget, makasih farhan 👍👍 semangat nulisnya!!

    BalasHapus
  20. Informasinya sangat mendetail dan bermanfaat. Semangat trs Farhan!

    BalasHapus
  21. mantepp, detail bngtt infonya farhann!!👍✨

    BalasHapus
  22. wah informasi yang diberikan sangat bagus dan bermanfaat. manjiw✨

    BalasHapus
  23. Keren farhan artikelnya👍🏻 terus berkarya👍🏻

    BalasHapus
  24. Waaah sangat bermanfaat sekali. Terimakasih 🙏

    BalasHapus
  25. kerenn kak insightful bgt!

    BalasHapus
  26. keren dan menarik banget farhan informasinya, ditunggu yaa tulisan selanjutnyaa🌸

    BalasHapus
  27. keren banget farhann informasinyaaa, sukses teruss yaaa!!!

    BalasHapus
  28. Bermanfaat banget informasinya, ditunggu ya artikel lainnya!! Semangat!!!

    BalasHapus
  29. Kerenn!!! Informasinya sangat detail, penjelasannya bagus sekali dan sangat bermanfaat. Terimakasih🙏🏻

    BalasHapus
  30. Keren! bermanfaat sekali kontennya. terima kasih farhan

    BalasHapus
  31. Wah keren bgt ka, infonya jga luas bgtt!!

    BalasHapus
  32. alhamdulillah insyaallah bermanfaat, makasih ka

    BalasHapus
  33. keren farhan artikelnyaa informatif bgt!!

    BalasHapus
  34. Wah bermanfaat banget informasinya, terus semangat ya👏🏻

    BalasHapus
  35. Kontennya bermanfaat sekali, semangat terus

    BalasHapus
  36. Materinya sangat baguss ����

    BalasHapus
  37. Bagus sekali materinya, terima kasih untuk blognya

    BalasHapus
  38. Mantap Farhan, bagus banget informasinya.. Semangat terus ya nulisnya, semoga konsisten

    BalasHapus
  39. Semangat han ngontennya, bermanfaat sekali✨

    BalasHapus
  40. Wah kontennya bagus sekali Farhan, terimakasih

    BalasHapus
  41. Owawwww... super lengkap ini dan sangat jelas apa itu literasi... terima kasih informasinyaaa

    BalasHapus
  42. Terimakasih farhan informasinya sangat bermanfaat👍🏻

    BalasHapus
  43. Terima kasih farhan untuk informasinya sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  44. ternyata literasi informasi lingkupnya luas banget, baru tauuu.. bagus artikelnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Search Engine Optimization (SEO) On Page dalam Pengembangan Digital Library Marketing untuk Perpustakaan dan Lembaga Informasi

Masalah arah kebijakan pengembangan perpustakaan bagi generasi milenial